Langsung ke konten
13 Mei 2026oleh rembulanBaca 3 menitCerita AI

Yang Dibeli Mira Bukan Cuma Obat Batuk

Tiga menit di apotek malam itu lebih panjang dari semua percakapan yang Mira hindari selama dua tahun terakhir.

  • cerita
  • rembulan
  • seed:curated
  • batch:2026-W20

Mira sebenernya nggak perlu keluar malam itu.

Batuknya nggak parah-parah amat — jenis yang gangguin tapi nggak sampai bikin nggak bisa tidur. Tapi dia sudah tiga hari di kamar dan ngerasa dindingnya mulai punya ekspresi, jadi apotek dua puluh empat jam dua blok dari sana jadi alasan yang cukup untuk pakai jaket dan keluar.

Dia ambil obat batuk yang biasa di rak — sirup, bukan tablet, karena tenggorokannya lebih suka yang cair — dan bawa ke kasir.

Kasirnya lagi proses pembeli lain. Mira berdiri di belakang dan scrolling HP tanpa tujuan sambil nunggu.

Pembeli di depannya bayar, ambil kantong plastik kecil, balik badan.

Mira lihat kantong plastiknya sekilas — kontur kotak yang sama, obat batuk sirup yang sama.

Terus dia lihat wajahnya.

Cindy.

Mira nggak pernah lupa wajah Cindy, tapi agak surprised melihatnya sekarang karena otak dia udah lama nggak memprosesnya sebagai sesuatu yang mungkin ada di ruang yang sama. Cindy Lestari, yang dulu jadi teman sebangku Mira selama dua tahun di SMP, yang perpisahannya canggung dengan cara yang nggak pernah bener-bener dibicarakan.

Cindy juga kelihatan terkejut — tapi cuma setengah detik, sebelum ekspresinya settle jadi sesuatu yang netral.

"Mira."

"Hei."

Kasirnya ngetuk meja pelan. Mira sadar dia masih megang sirup batuknya dan belum naruh ke meja kasir. Dia letakkan.


Mereka dulu dekat dengan cara yang intens dan cepat — jenis pertemanan yang tumbuh karena duduk bersebelahan setiap hari dan akhirnya tau detail kecil satu sama lain sebelum sempat milih. Mira tau Cindy takut cicak. Cindy tau Mira nggak bisa makan kalau background TV-nya berisik.

Tapi kelas delapan, ada sesuatu — bukan pertengkaran besar, lebih ke akumulasi salah paham kecil yang nggak ada yang mau jadi yang pertama benerin. Mereka drift. Kelas sembilan, duduknya sudah beda, dan perpisahan SMP terasa kayak tanda tangan di atas sesuatu yang sudah selesai duluan.

Dua tahun setelah itu, Cindy kirim DM Instagram — sesuatu yang ringan, komentar soal foto Mira. Mira baca, nggak balas. Bukan karena benci, tapi karena nggak tau mau bilang apa dan menunda sampai akhirnya nggak relevan lagi.

Sekarang mereka berdiri di luar apotek, sama-sama pegang kantong plastik yang isinya sama.

"Batuk?" tanya Cindy.

"Tiga hari. Lo juga?"

"Seminggu. Abis naik motor hujan-hujanan."

Mira mengangguk. "Lo tinggal di sini sekarang?"

"Kos di jalan sebelah. Baru pindah."

Ada beberapa detik di mana keduanya nggak ngomong. Bukan awkward sepenuhnya, tapi juga bukan nyaman. Lebih ke jenis keheningan yang lagi nunggu sesuatu untuk menentukan ini mau ke mana.

Cindy yang ngomong duluan. "Gue pernah DM lo dua tahun lalu."

Mira nggak pura-pura nggak inget. "Iya. Gue baca tapi nggak balas. Sorry."

"It's okay," kata Cindy — dan kelihatannya emang okay, bukan yang bilang okay tapi maksudnya nggak. "Gue ngerti kok. Kita kan emang udah nggak deket."

"Bukan karena itu," kata Mira. "Lebih ke... gue nggak tau mau ngomong apa. Terus jadi nggak ngomong sama sekali."

Cindy diam sebentar. "Gue juga waktu SMP nggak tau cara benerin yang salah. Jadi gue juga diem."

Udaranya dingin, tapi nggak sampai mengganggu. Dari arah jalan besar, sesekali ada motor lewat.

"Kita sama-sama nggak ngomong," kata Mira.

"Selama bertahun-tahun," tambah Cindy, dengan nada yang hampir lucu.

Mira ketawa pendek. "Produktif banget."

Cindy juga ketawa, dan sesuatu di antara mereka jadi sedikit lebih ringan.

Mereka ngobrol beberapa menit lagi — hal-hal permukaan dulu: kerja apa, tinggal di mana, area mana yang enak buat makan. Tapi di bawahnya ada sesuatu yang sudah diakui, sekecil apa pun. Bahwa mereka pernah saling kenal, pernah ada yang nggak beres, dan sekarang dua orang dewasa yang sama-sama batuk bisa berdiri di sini tanpa harus pura-pura itu nggak ada.

Cindy ambil HP. "Boleh minta nomor lo?"

Mira pikir sebentar — bukan soal mau nggak mau, tapi lebih ke dia mau pastiin dia nggak akan baca terus nggak balas lagi kalau nanti Cindy kirim pesan.

"Boleh," kata Mira. "Dan kali ini gue bakal balas."

Cindy senyum tipis. "Oke. Gue ingetin kalau lupa."

Mereka tukar nomor. Cindy jalan duluan karena kosnya lebih dekat.

Mira berdiri sebentar di trotoar setelah Cindy pergi, megang kantong plastiknya. Angin lewat sebentar dan bikin rambutnya berantakan sedikit.

Dia udah lama nggak mikirin Cindy — bukan karena berhasil lupa, lebih karena memang nggak ada yang ngingetin. Dan malam ini satu kotak sirup batuk jadi pengingat bahwa beberapa hal yang nggak diselesaikan tetap ada di suatu tempat, diam, nunggu momen yang kebetulan.

Dia buka WhatsApp dan kirim pesan ke nomor baru itu: ini gue.

Terus dia pulang, minum obatnya, dan tidur lebih cepat dari yang dia kira.

Bagikan tulisan ini

WhatsAppXFacebook