Langsung ke konten
13 Mei 2026oleh rembulanBaca 3 menitCerita AI

Dua Kotak Parasetamol di Meja Kasir

Yuda nggak nyangka reuni pertamanya setelah lulus SMP justru terjadi di bawah lampu neon apotek, sama-sama sakit kepala.

  • cerita
  • rembulan
  • seed:curated
  • batch:2026-W20

Yuda datang ke apotek malam itu dengan niat cepat: ambil parasetamol, bayar, pulang, tidur. Kepalanya udah nyut-nyutan dari tadi sore dan dia sudah minum satu tablet yang tersisa dari strip lamanya tanpa efek berarti.

Dia langsung ke rak obat bebas, ambil satu kotak parasetamol yang biasa, dan berbalik ke kasir.

Di kasir ada satu orang lagi lagi yang lagi ngeluarin dompet. Yuda nggak perhatiin wajahnya dulu — dia lebih fokus ke layar HP yang lagi dia lihat sambil jalan. Tapi waktu orang itu ngomong "makasih" ke kasir dan balik badan, mereka hampir ketabrak.

"Sorry, gue nggak—" Yuda berhenti.

Orang itu juga berhenti.

Hamid. Hamid Kurniawan, yang dulu duduk tepat di belakang Yuda di kelas tujuh dan sering pinjem penghapus tapi nggak pernah balikin.

Hamid pegang kotak parasetamol di tangannya. Yuda pegang kotak yang sama.

"Bro," kata Hamid.

"Bro," balas Yuda.

Kasirnya — seorang perempuan muda yang kelihatannya sudah cukup dewasa untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap apapun yang terjadi di shift malamnya — nunjuk kotak di tangan Yuda. "Mau bayar juga?"

"Oh, iya." Yuda letakkan kotaknya di meja.

Dia bayar, ambil kembaliannya, dan keluar. Hamid masih berdiri di luar pintu.


Mereka sebenernya nggak pernah akrab-akrab amat. Yuda dan Hamid lebih ke kategori teman sekelas yang nggak musuhan — jenis hubungan yang eksis karena meja yang berdekatan dan jadwal yang sama, bukan karena ada yang usaha. Waktu SMP selesai, mereka nggak tukar nomor, nggak cari di media sosial. Yuda bahkan nggak ingat pernah mikirin Hamid sama sekali sampai malam ini.

Tapi mereka tetap berdiri di luar apotek itu, agak kedinginan, nggak langsung pergi.

"Sakit kepala?" tanya Hamid.

"Dari tadi sore. Lo?"

"Habis lembur. Empat hari berturut-turut."

Yuda mengangguk pelan. "Kerja di mana sekarang?"

"Kontraktor interior. Tapi ini proyeknya ketat banget deadlinenya, jadi ya." Hamid angkat kotak obat sedikit, gesture universal untuk makanya gue di sini.

"Lo tinggal deket sini?"

"Kos di gang sebelah. Udah setahun. Lo?"

"Apartemen dua ratus meter dari sini. Baru enam bulan."

Hamid ketawa pelan. "Serius kita setahun jadi tetangga nggak ketemu?"

"Apotek jam sebelas malem emang nggak ada di itinerary gue biasanya."

Mereka jalan pelan ke arah yang kebetulan sama — atau setidaknya searah sampai pertigaan pertama. Malam itu sepi dengan cara kota kecil, bukan kota besar: bukan benar-benar sunyi, tapi juga nggak ada hiruk-pikuk yang bikin semua orang ngerasa perlu ngomong lebih keras.

"Lo inget Pak Budi?" tanya Hamid tiba-tiba.

"Guru matematika?"

"Yang sering ngetuk meja pakai spidol kalau kelas ribut."

Yuda ingat. Atau lebih tepatnya, ingat suaranya — tok tok tok, ritme yang spesifik, frekuensi yang entah kenapa nyangkut di memori.

"Inget," kata Yuda. "Kenapa?"

"Nggak tau. Tadi liat meja kayu di apotek trus inget."

Otak yang capek dan sakit kepala kadang koneksinya aneh. Yuda ngerti itu.

Mereka ngobrol sampai pertigaan tentang hal-hal yang nggak terlalu penting — temen-temen lama, beberapa nama yang mereka berdua ingat tapi nggak tau kabarnya, satu nama yang ternyata mereka berdua masih follow di Twitter tapi nggak pernah interact.

Di pertigaan, Hamid belok kiri, Yuda lurus.

"Nanti kalau mau makan siang," kata Hamid, "ada warteg bagus di gang depan kos gue. Murah, nggak aneh."

"Boleh," kata Yuda. "Gue simpan nomor lo?"

Mereka tukar nomor di bawah lampu jalan yang satu lampunya kedip-kedip intermiten. Yuda simpan kontaknya, Hamid jalan duluan.

Sepanjang sisa perjalanan ke apartemennya, Yuda ngerasa kepalanya masih nyut-nyutan tapi lebih ringan entah kenapa — padahal dia belum minum obatnya. Mungkin udara dingin. Mungkin juga jalan kaki sedikit emang ngebantu.

Dia buka pintu apartemen, isi segelas air, dan telan satu tablet parasetamol.

Dia taruh kotak sisanya di laci meja. Di sebelah kotak lama yang masih ada beberapa strip. Ternyata dia nggak kehabisan — cuma nggak ngecek dengan bener tadi sebelum berangkat.

Tapi kalau dia ngecek dengan bener, dia nggak akan ketemu Hamid.

Dia tutup laci dan matikan lampu.

Bagikan tulisan ini

WhatsAppXFacebook