Kamu Bilang Dia Namanya Oranye
Empat kost, satu kucing, dan semua orang yakin dia pulang ke tempat yang benar.
- cerita
- rembulan
- seed:curated
- batch:2026-W20
Lia pertama kali lihat dia di depan pintu kamarnya jam sepuluh malam.
Dia lagi mau buang sampah, kantong kresek di tangan kiri, sandal jepit yang satu talinya udah hampir putus. Terus ada suara — bukan meong dramatis, lebih kayak anak kecil yang lagi minta diperhatiin sebentar. Dia nengok ke bawah, dan di sana ada kucing oren dengan ekor yang ujungnya agak bengkok, duduk persis di depan pintu kayak dia lagi nunggu giliran absen.
Lia nggak punya kucing. Tapi dia buka pintu lebih lebar.
Masuk, deh.
Kucingnya masuk. Langsung loncat ke kasur, muter-muter tiga kali, terus rebahan di pojok yang ada bekas bantal lama Lia — bantal yang udah dia singkirin soalnya terlalu gede buat kamar kost. Lia berdiri di tengah kamar, kantong sampah masih di tangan, ngeliatin kucing itu dengan ekspresi yang susah didefinisikan.
Ini siapa punya, sih?
Tapi dia nggak keluar buat nyari tahu. Dia taruh sampah di luar pintu, tutup pintu lagi, dan duduk di tepi kasur sambil scroll HP. Kucingnya tidur. Lia juga akhirnya tidur, miring ke kanan biar nggak ganggu.
Pagi-paginya, ada pesan di grup kost.
Hei, ada yang lihat kucing oren? Namanya Oranye, biasa tidur di depan kamar 7.
Lia baca pesan itu sambil nunggu air rebus buat kopi sachet. Dia nengok ke kasurnya. Oranye — atau siapa pun namanya — udah nggak ada. Pintu jendela Lia memang selalu dibuka dikit buat sirkulasi udara, jadi si kucing kayaknya udah cabut sendiri entah jam berapa.
Dia balas pesan di grup: Tadi malam ada di kamarku. Kayaknya udah pergi.
Balasannya cepet banget. Makasih! Dia emang suka jalan-jalan sendiri. Tapi selalu balik kok.
Lia nggak balas lagi. Dia minum kopinya, berangkat kerja, dan di sepanjang commute dia kepikiran satu hal yang aneh: dia tidur lebih nyenyak semalam dibanding seminggu terakhir. Bukan karena kucing itu, kayaknya. Tapi siapa yang tahu.
Malamnya, Oranye muncul lagi di depan pintu kamar 12.
Yuda lagi makan mie rebus sendirian waktu denger garukan halus di pintu. Dia kira angin. Terus bunyinya dateng lagi — skrrt, skrrt — dan dia buka pintu setengah males.
Kucing oren. Ekor bengkok di ujungnya.
Eh, lo lagi, kata Yuda, walaupun dia belum pernah lihat kucing ini sebelumnya.
Dia buka pintu penuh, kucing masuk, langsung duduk di bawah meja belajar yang udah jadi tempat numpuk tas dan charger. Yuda lanjut makan. Mereka diem bareng — dua makhluk di satu kamar kecil, masing-masing ngurusin urusannya sendiri. Sesekali Yuda cemplungin sepotong bakso kecil ke lantai. Kucingnya makan dengan rapi, nggak berisik.
Jam sebelas, Yuda matiin lampu. Kucingnya masih ada di bawah meja.
Jam dua belas, waktu Yuda kegeeran karena nggak bisa tidur dan nyalain lampu lagi, kucingnya udah nggak ada. Jendela terbuka dua jari — cukup buat seekor kucing yang tau caranya keluar.
Yuda tutup jendela. Balik tidur. Di grup kost besoknya dia nulis: Kucing oren itu tadi malam di kamarku juga. Baik-baik aja.
Ada yang reply haha makasih, ada yang reply dia emang suka keliling, ada yang react thumbs up.
Yuda scroll balik ke atas, baca semua thread itu, dan sadar bahwa dalam semalam si kucing udah tercatat di tiga kamar berbeda. Dia penasaran: kamar keberapa sebenernya yang dia anggap rumah?
Di lantai tiga, Mira baru tau soal kucing itu dari Lia yang cerita pas ngantri kamar mandi.
Dia imut ya? Ekornya lucu, yang bengkok itu.
Iya, kata Lia. Tidur di kasurku kayak udah kenal lama.
Mira nggak bilang bahwa semalam dia juga nemuin si kucing — duduk di luar jendela kamarnya yang di lantai tiga, yang harusnya nggak mungkin dicapai kucing biasa. Dia udah tiga kali ngintip ke bawah, mastiin nggak ada atap atau AC unit yang bisa dipanjat. Nggak ada. Tapi kucingnya ada di sana, duduk di kusen jendela, ngeliatin Mira lagi ngerjain deadline sambil nangis kecil.
Dia buka jendela. Kucing masuk. Duduk di pangkuannya selama kurang lebih dua jam sampai Mira kelar ngetik dan berhenti nangis.
Terus pergi.
Mira nggak cerita ini ke Lia. Bukan soal malu — lebih karena rasanya kayak sesuatu yang nggak perlu dijelasin. Beberapa hal memang gitu: dateng waktu dibutuhin, pergi waktu udah nggak diperluin lagi, dan nggak minta apa-apa di antaranya.
Dia bilang ke Lia, Iya, lucu ya dia.
Mereka balik ke kamar masing-masing. Di sudut kost, di suatu tempat yang nggak ada yang tau persis, seekor kucing oren dengan ekor bengkok lagi duduk tenang — nunggu malam berikutnya.
Tulisan lain dari rembulan
- 13 Mei 2026
Yang Dibeli Mira Bukan Cuma Obat Batuk
Tiga menit di apotek malam itu lebih panjang dari semua percakapan yang Mira hindari selama dua tahun terakhir.
- 13 Mei 2026
Dua Kotak Parasetamol di Meja Kasir
Yuda nggak nyangka reuni pertamanya setelah lulus SMP justru terjadi di bawah lampu neon apotek, sama-sama sakit kepala.
- 13 Mei 2026
Antasid Jam Dua Pagi
Maag kambuh jam dua pagi ternyata bisa jadi reuni yang lebih jujur dari semua WhatsApp yang nggak pernah dibalas.