Antasid Jam Dua Pagi
Maag kambuh jam dua pagi ternyata bisa jadi reuni yang lebih jujur dari semua WhatsApp yang nggak pernah dibalas.
- cerita
- rembulan
- seed:curated
- batch:2026-W20
Rani berdiri di depek rak obat lambung dengan mata setengah terbuka dan tangan kiri masih menekan perutnya pelan. Apotek ini satu-satunya yang buka di radius dua kilometer dari kosannya, dan lampunya yang terlalu terang selalu bikin dia ngerasa kayak lagi diinterogasi setiap kali datang malam-malam.
Dia ambil antasida yang biasanya — yang bentuknya tablet kunyah rasa mint — dan balik badan mau ke kasir. Terus dia lihat seseorang sudah berdiri di sana duluan, megang kotak yang sama persis.
Dina.
Rambut Dina lebih pendek sekarang, warna hitam natural, bukan lagi highlight coklat yang dulu dia bangga-banggain pas kelas delapan. Dia pakai jaket oversized dan celana pendek, jelas baru bangun atau belum tidur sama sekali. Dua opsi yang sama-sama masuk akal jam segini.
"Eh," kata Dina duluan.
"Eh," balas Rani.
Mereka berdua lirik kotak obat di tangan masing-masing. Antasida. Sama. Warna box-nya juga sama.
"Maag lo juga?" tanya Dina.
"Udah tiga tahun," jawab Rani. "Lo?"
"Baru setahun. Kata dokter stres."
Rani ngangguk. "Sama."
Kasirnya — seorang bapak muda yang kelihatannya sudah rekonsiliasi dengan kenyataan bahwa shift malam itu takdirnya — mengetuk meja pelan. "Antrenya satu-satu ya, Kak."
Mereka berdua langsung maju ke kasir bergantian tanpa banyak ngomong, tapi begitu keluar dari apotek, mereka berhenti di trotoar yang sama. Bukan karena ada yang ngajakin, tapi karena arahnya kebetulan sama — atau setidaknya nggak ada yang buru-buru pergi.
Terakhir kali Rani lihat Dina langsung, mereka berdua masih SMP. Waktu perpisahan kelas sembilan, Dina nangis duluan sebelum acaranya bahkan mulai, dan Rani ingat ngerasa awkward karena nggak tau harus ngapain. Mereka saling follow di Instagram, tapi interaksi terakhirnya berupa like foto liburan Dina ke Lombok, dua tahun lalu.
"Lo tinggal di sini sekarang?" tanya Rani.
"Kos dua blok dari sini. Baru pindah empat bulan."
"Gue juga kos deket sini. Udah setahun."
Dina ketawa pendek. "Lama amat baru ketemu."
"Apotek jam dua pagi emang bukan tempat nongkrong biasanya."
Mereka duduk sebentar di bangku halte yang kosong. Bukan karena ada bus yang mau ditunggu — ini jam dua pagi, nggak ada bus — tapi karena berdiri lama itu melelahkan dan bangkunya ada.
Dina buka kotak obatnya dan langsung kunyah satu tablet. Rani ikutan.
"Kerja apa sekarang?" tanya Rani.
"Content planning di agensi kecil. Remote mostly. Lo?"
"Admin di startup. Juga mostly remote."
"Pantesan maag."
Rani ketawa. Beneran, bukan yang sekedar sopan. "Serius banget ya kita berdua."
"Pekerja remote yang maag jam dua pagi di apotek yang sama," kata Dina. "Kita tuh literally produk dari angkatan yang sama."
Ada yang lucu dari kalimat itu, tapi juga ada yang bikin dada sedikit sesak kalau dipikirkan lebih jauh. Rani pilih yang pertama.
Mereka ngobrol sekitar dua puluh menit — campuran random antara cerita kerjaan, teman-teman SMP yang masih sesekali ketemu, dan satu momen panjang di mana mereka berdua coba inget nama guru IPA mereka tapi gagal. Bu Yuni? Pak Yono? Nggak ada yang yakin.
Suhu makin dingin. Rani tarik ritsleting jaketnya lebih ke atas.
"Gue harus balik," kata Dina akhirnya. "Deadline besok pagi."
"Iya, gue juga."
Dina berdiri, lalu pause. "Lo mau di-save nomornya?"
Rani keluarkan HP. Mereka tukar nomor, yang sebenernya agak redundant karena mereka masih saling follow di Instagram — tapi nomor rasanya beda. Lebih intentional.
"Nanti kalau maag kambuh lagi kita bisa koordinasi," kata Dina dengan muka serius.
"Noted. Gue set reminder tiap jam dua pagi."
Dina ketawa dan jalan ke arah kosannya. Rani jalan ke arah yang berlawanan.
Sepanjang jalan balik, perut Rani masih agak nyeri, tapi lebih tumpul dari sebelumnya. Mungkin efek obatnya, mungkin memang udah waktunya reda. Dia nggak terlalu mikirin bedanya.
Yang dia pikirin adalah betapa anehnya bahwa dua orang bisa tumbuh parallel selama sepuluh tahun — kota yang sama, jenis kerja yang mirip, penyakit yang sama — dan baru ketemu lagi justru di titik paling tidak glamor yang bisa ada: trotoar dingin, jam dua pagi, sama-sama pegang obat lambung.
Dia simpan nomor Dina dengan nama lengkap supaya nggak lupa. Terus dia pikir-pikir, dan hapus nama belakangnya. Cukup Dina saja.
More from rembulan
- May 13, 2026
Yang Dibeli Mira Bukan Cuma Obat Batuk
Tiga menit di apotek malam itu lebih panjang dari semua percakapan yang Mira hindari selama dua tahun terakhir.
- May 13, 2026
Dua Kotak Parasetamol di Meja Kasir
Yuda nggak nyangka reuni pertamanya setelah lulus SMP justru terjadi di bawah lampu neon apotek, sama-sama sakit kepala.
- May 13, 2026
Kamu Bilang Dia Namanya Oranye
Empat kost, satu kucing, dan semua orang yakin dia pulang ke tempat yang benar.